Penelitian ini menganalisis fungsi Non-Fungible Token (NFT) sebagai instrumen experience marketing dalam penyelenggaraan Prambanan Jazz Festival (PJF), yang menjadi salah satu festival musik pertama di Indonesia yang mengadopsi NFT sebagai sistem membership dan ticketing berbasis blockchain sejak 2022. Menggunakan kerangka Experiential Marketing Schmitt (1999) dengan lima Strategic Experiential Modules (SEMs), penelitian ini mengkaji bagaimana ekosistem NFT mengaktifkan dimensi-dimensi pengalaman tersebut. Pendekatan kualitatif deskriptif dengan wawancara mendalam dilakukan terhadap empat belas narasumber, terdiri atas pemegang NFT dari berbagai tier kepemilikan serta jajaran penyelenggara festival. Hasil penelitian menunjukkan kelima modul SEMs berhasil diaktifkan, namun dengan efektivitas yang tidak merata. Modul Feel paling konsisten lintas seluruh tier melalui rasa kepemilikan aset digital yang persisten dan nilai simbolik eksklusivitas. Modul Sense dan Act hanya teraktivasi secara bermakna pada tier menengah keatas, sementara modul Relate menjadi titik terlemah akibat komunitas yang bersifat musiman. Penelitian ini juga mengidentifikasi tiga dimensi nilai NFT PJF, yakni nilai fungsional, simbolik, dan finansial. Implementasinya terkendala oleh sistem gacha yang menciptakan kesenjangan pengalaman antar tier, kompleksitas teknis bagi pengguna berliterasi rendah, serta ketidakkonsistenan benefit lintas tahun. Penelitian ini menyimpulkan NFT PJF merupakan inovasi yang hadir mendahului kesiapan ekosistemnya, namun memiliki potensi signifikan apabila dikembangkan melalui desain pengalaman yang lebih inklusif, distribusi benefit yang berkeadilan, dan strategi komunitas yang berkelanjutan.
Riyan Yusuf Octafia, Amalia Nur Chasanah, Usman Usman, Bara Zaretta
This study aims to analyze the influence of the Bitcoin economy on the money supply (M1) in Indonesia, with Bitcoin volatility as an intervening variable. Using a quantitative approach, the data consists of 36 monthly time-series observations from 2022 to 2024. Data analysis techniques include regression analysis adjusted with the Prais-Winsten method to address autocorrelation issues, the Sobel test for mediation analysis, and path analysis. The results indicate that the Bitcoin economy has a direct, positive, and significant effect on the money supply (M1) in Indonesia. However, the Bitcoin economy was found to have a negative and non-significant effect on Bitcoin volatility. Similarly, Bitcoin volatility exerts a negative but non-significant influence on the money supply (M1). The Sobel test results prove that Bitcoin volatility does not function as an intervening variable mediating the relationship between the Bitcoin economy and the money supply (M1). These findings suggest that while the expansion of the Bitcoin ecosystem encourages an increase in domestic monetary liquidity, the price fluctuations of digital assets have not yet become a transmission channel that significantly disrupts the stability of national monetary aggregates.
Penelitian ini bertujuan untuk memetakan perkembangan dan arah evolusi riset mengenai perilaku investor di era digital melalui pendekatan bibliometrik. Data dikumpulkan dari basis data Scopus dan dianalisis menggunakan perangkat VOSviewer untuk mengidentifikasi pola publikasi, jaringan kolaborasi, serta struktur konseptual berdasarkan ko-occurence kata kunci. Hasil analisis menunjukkan bahwa tema investasi dan pasar keuangan tetap menjadi fondasi utama literatur, namun dalam beberapa tahun terakhir terjadi pergeseran signifikan menuju integrasi teknologi digital seperti machine learning, artificial intelligence, cryptocurrency, dan decentralized finance. Visualisasi overlay memperlihatkan bahwa topik berbasis algoritma dan sistem keuangan terdesentralisasi merupakan tema yang relatif lebih mutakhir. Analisis jaringan kolaborasi mengindikasikan bahwa produksi ilmiah masih terpusat pada beberapa negara dan institusi tertentu, dengan keterlibatan terbatas dari negara berkembang. Secara konseptual, studi ini menunjukkan bahwa perilaku investor di era digital berkembang dari pendekatan psikologis tradisional menuju kerangka yang lebih terintegrasi dengan transformasi teknologi dan analitik berbasis data. Temuan ini memberikan arah penelitian lanjutan terkait bias perilaku dalam lingkungan investasi yang semakin terdigitalisasi dan dimediasi algoritma.
Materi ini membahas aspek praktis investasi dan trading aset kripto dengan pendekatan literasi risiko dan kehati-hatian, khususnya untuk membantu peserta memahami bahwa kripto pada dasarnya merupakan aset, sehingga interaksinya harus dianalisis sebagaimana interaksi pada ekosistem aset pada umumnya. Pembahasan dimulai dari kerangka besar ekosistem kripto yang menempatkan pengguna (aktor), platform (venue), dan aset (goods) sebagai tiga elemen utama pembentuk risiko, kemudian dilanjutkan dengan pengenalan spektrum aset kripto (coin, token, dan NFT), mekanisme kustodi (custodial vs non-custodial), serta pentingnya pengamanan private key dan seed phrase. Materi juga menguraikan mekanisme transaksi pada pasar spot di CEX (order book) dan DEX (AMM), termasuk peran liquidity provider, arbitrage, slippage, dan risiko likuiditas. Selain itu, dijelaskan berbagai aktivitas dalam ekosistem Web3 seperti staking, lending-borrowing DeFi, strategi long/short berbasis jaminan, hingga bahaya derivatif dan leverage yang dapat memicu likuidasi cepat. Selanjutnya, materi menekankan pentingnya analisis fundamental (tokenomics, aktivitas developer, metrik finansial, dan data on-chain), serta memberikan pengantar mengenai aset dunia nyata yang ditokenisasi (RWA), metaverse, dan NFT beserta parameter evaluasinya (provenance, kolektibilitas, utilitas, finansial, roadmap, dan komunitas). Pada sisi mitigasi risiko, materi memetakan bahaya utama di ekosistem kripto—mulai dari risiko CEX, token, DeFi, hingga interaksi sosial (phishing, social engineering, pig butchering, dan FOMO)—serta menawarkan kerangka due diligence 6D (Define, Document, Diversify, Detect, Defend, Discipline) sebagai panduan pengambilan keputusan yang lebih rasional. Kesimpulan utama materi ini menegaskan bahwa risiko utama dalam kripto bukan hanya terletak pada instrumennya, tetapi juga pada kualitas riset, pengendalian diri, dan kemampuan menjaga diri pengguna saat berinteraksi dengan ekosistem digital.
Enggar Sukma Kinanthi, Rosa De Lima Dyah Retno Palupi
Ketidakpastian pasar keuangan yang ditandai oleh meningkatnya volatilitas, guncangan global, dan perubahan perilaku investor mendorong perlunya evaluasi kembali peran berbagai aset dalam manajemen portofolio. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mensintesis temuan empiris terkait peran saham, emas, dan Bitcoin dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan. Analisis dilakukan menggunakan metode kajian literatur melalui perbandingan lintas aset untuk mengevaluasi kesesuaian antara prediksi teori keuangan klasik dengan temuan empiris pasar modern. Hasil kajian menunjukkan bahwa saham secara konsisten diklasifikasikan sebagai aset berisiko dengan volatilitas yang dipengaruhi oleh sentimen dan dinamika pasar, sementara emas relatif mempertahankan perannya sebagai aset lindung nilai meskipun efektivitasnya bersifat kondisional. Bitcoin, yang secara teoritis dipandang sebagai aset spekulatif berisiko tinggi, menunjukkan peran yang lebih kompleks dan kontekstual, berfungsi sebagai instrumen diversifikasi atau lindung nilai dalam kondisi pasar tertentu. Temuan ini menegaskan bahwa fungsi aset dalam portofolio modern tidak bersifat statis, melainkan dinamis dan dipengaruhi oleh ketidakpastian pasar serta perubahan perilaku investor.
Ni Wayan Lasmi, Ni Kadek Ayu Puspita Dewi, Ni Putu Nina Eka Lestari, Ni Ketut Arniti
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi promosi Bitcoin yang diterapkan oleh pelaku industri aset kripto, khususnya Indodax dan edukator kripto seperti Timothy Ronald, dalam mengatasi ketidakpercayaan masyarakat Indonesia terhadap aset kripto. Ketidakpercayaan ini masih menjadi hambatan besar dalam proses adopsi Bitcoin, terutama disebabkan oleh rendahnya literasi keuangan digital, kekhawatiran terhadap keamanan investasi, serta stigma negatif yang melekat akibat fluktuasi harga dan pemberitaan media yang tidak selalu objektif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang memungkinkan peneliti memahami secara mendalam persepsi, pengalaman, serta strategi komunikasi yang diterapkan dalam promosi Bitcoin. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap beberapa kategori informan, yaitu pengguna aktif Indodax, pengguna baru yang terdorong oleh fear of missing out (FOMO), masyarakat yang masih skeptis terhadap Bitcoin, serta karyawan dari Indodax. Selain itu, peneliti juga melakukan observasi konten media sosial dan edukasi yang disampaikan oleh influencer kripto sebagai bentuk dokumentasi promosi. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi proses reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi promosi yang efektif tidak hanya bergantung pada iklan atau kampanye visual semata, melainkan lebih menekankan pada edukasi berkelanjutan dan peningkatan literasi keuangan masyarakat. Penyampaian informasi yang sederhana, jujur, serta berbasis pada pengalaman nyata pengguna terbukti dapat membangun kepercayaan publik. Pendekatan edukatif yang dilakukan melalui media sosial, video interaktif, webinar, dan kolaborasi dengan influencer terbukti mampu mengubah persepsi negatif menjadi ketertarikan, terutama di kalangan generasi muda. Dengan demikian, edukasi menjadi kunci utama dalam meningkatkan minat dan kepercayaan masyarakat terhadap penggunaan Bitcoin di Indonesia.
Anny Nurbasari, Nisa Hanum Harani, Medy Syari Khalifah Anggari Raharjo
This study examines the influence of influencer marketing on Non-Fungible Tokens (NFTs) purchase decisions, both directly and through the mediating role of brand image, with a focus on members of the Ordo Nemesis NFT community. The rapid evolution of blockchain technology has driven the surge in popularity of NFTs, where consumer decisions are profoundly influenced by brand perception and public figures who endorse them. Influencer marketing has emerged as a prevalent strategy to influence these perceptions. A quantitative approach was employed using survey data collected from 100 community members who had previously purchased NFTs. The data were analyzed with Structural Equation Modeling (SEM) using SmartPLS. The findings reveal that influencer marketing significantly strengthens brand image, and brand image exerts a strong positive effect on purchase decisions. However, the direct impact of influencer marketing on purchasing behavior is weaker than its indirect effect through brand image, underscoring the importance of brand perception as a mediating factor. These results suggest that NFT creators and companies should prioritize developing a strong, authentic brand image in collaboration with credible influencers to foster consumer trust and encourage sustainable purchasing behavior.
Ketidakpastian ekonomi dan inflasi mendorong investor untuk mencari aset lindung nilai. Emas telah lama dianggap sebagai safe haven, sementara Bitcoin mulai dipandang sebagai alternatif digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh harga emas terhadap pergerakan harga Bitcoin dengan indeks Dow Jones sebagai variabel kontrol. Metode yang digunakan adalah regresi linear dengan pendekatan Ordinary Least Squares (OLS), menggunakan data sekunder bulanan dari tahun 2019 hingga Oktober 2024. hasil penelitian menunjukkan bahwa emas memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap harga Bitcoin, sedangkan indeks Dow Jones tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Temuan ini mendukung teori penyimpan nilai (store of value) dan semakin memperkuat peran Bitcoin sebagai aset alternatif dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi. Hasil ini dapat memberikan implikasi praktis bagi investor dan pengambil keputusan dalam menggunakan pergerakan harga emas sebagai indikator untuk mengantisipasi pergerakan harga Bitcoin dan strategi manajemen risiko portofolio di tengah transisi global menuju digitalisasi ekonomi.
This study examines the influence of Social Media Influencers and Fear of Missing Out (FOMO) on cryptocurrency investment interest among Generation Z students at Singaperbangsa University in Karawang. This research uses a quantitative approach with descriptive and verification methods, with data collection through a Likert scale questionnaire. A total of 122 respondents from the university were selected using purposive sampling method. Research variables include Social Media Influencers, FOMO, and Cryptocurrency Investment Interest, with data analyzed using SPSS for multiple regression. The results showed that both Social Media Influencers and FOMO have a significant influence on cryptocurrency investment interest. The influence of Social Media Influencers has a coefficient of 0.362 (p < 0.05), while FOMO shows a coefficient of 0.290 (p < 0.05). The model's R² value of 0.319 indicates that these two variables explain about 31.9% of the variation in investment interest. These results provide important insights into how digital media and social influence affect financial decision-making among the younger generation, especially in the rapidly growing cryptocurrency market.
Cryptocurrency is a digital asset accessible to the public and utilized for legal and illegal activities. While it serves as a medium of exchange and is recognized as a legal payment method in some countries, it has yet to attain such status in Indonesia. Nevertheless, by mid-2021, the number of Cryptocurrency investors in Indonesia had reached 6.5 million, with transaction values totaling 370.4 trillion rupiahs—surpassing the 5.37 million capital market investors recorded simultaneously. This study explores the profiles of Cryptocurrency investors. It also uses purposive sampling and multiple regression analysis to examine how awareness and perceived ease of use influence their motivation to adopt cryptocurrency. The findings reveal that awareness and ease of use significantly affect adoption motivation. These insights contribute to a better understanding of consumer behavior in the context of Cryptocurrency adoption. Keywords: Crypto Currency, Profile, Awareness, Ownership Motivations Abstrak Cryptocurrency adalah aset digital yang dapat diakses oleh publik dan digunakan untuk kegiatan baik secara legal dan ilegal. Meskipun berfungsi sebagai alat tukar dan diakui sebagai metode pembayaran legal di beberapa negara, masih banyak negara yang belum mengadopsi Cryptocurrency sebagai metode pembayaran ilegal salah satunya adalah Indonesia. Meski demikian, pada pertengahan 2021, jumlah investor mata uang kripto di Indonesia telah mencapai 6,5 juta, dengan nilai transaksi sebesar 370,4 triliun rupiah melampaui 5,37 juta investor pasar modal yang tercatat secara serentak. Studi ini dilakukan untuk mengeksplorasi profil investor cryptocurrency. Ini juga menggunakan purposive sampling dan analisis regresi berganda untuk memeriksa bagaimana kesadaran dan kemudahan penggunaan yang dirasakan memengaruhi motivasi mereka untuk mengadopsi cryptocurrency. Temuan ini mengungkapkan bahwa kesadaran dan kemudahan penggunaan secara signifikan mempengaruhi motivasi adopsi. Wawasan ini berkontribusi pada pemahaman yang lebih baik tentang perilaku konsumen dalam konteks adopsi mata uang kripto.Kata kunci: Cryptocurrency, Profil, Kesadaran, Motivasi Kepemilikan
Ferdinand Nainggolan, Lady Lady, Ervinasari Harianja
Investasi pada Bitcoin di Indonesia meningkat setiap tahunnya, hal ini dikarekan para investor yang melihat peluang keuntungan yang baik dan mengerti pentingnya untuk melakukan investasi. Hal ini juga didasari, bahwa bitcoin sebagai wadah investasi yang dianggap mudah untuk digunakan menjadi pilihan para investor. Penelitian ini dilakukan guna mengetahui faktor apakah yang menjadi pendorong dalam melakukan repurchase intention terhadap bitcoin. Metodologi penelitian ini adalah dengan penyebaran kuesioner melalui form online terhadap 172 investor bitcoin yang melakukan pembelian bitcoin secara berkelajutan. Pada penelitian ini menemukan bahwa perceived of enjoyment, expectation dan perceived ease of use dalam penggunaan berpengaruh signifikan terhadap repurchase intention bitcoin, sedangkan satisfaction dalam penggunaan tidak memiliki pengaruh terhadap repurchase intention bitcoin.
Mohammad Sholeh, Muhammad Fauzinudin Faiz, Moh Muhlis Anwar
Cryptocurrency is a result of recent development of digitalization in the financial transaction. OneGram is a part of it that uses gold instruments to back up and maintain its value stable. The purpose of this study is to explore how Islamic law and MUI & NU, through their fatwa, percieve the OneGram. This research uses a qualitative approach to gain a deep understanding of the OneGram by using secondary data collected from the Quran, hadith, relevant academic journals according to Islamic law and fatwas from both organization. The results of this study state that OneGram is allowed by Islamic law and the fatwa to be used as digital payment system. OneGram is furthermore supervised by shariah supervisory board to avoid gharar (uncertainty) and maysir (gambling) in maintaining its value. The unique fact from this digital currency is that the use of gold in transaction had been applied in the time of Prophet Muhammad SAW. From this digital development, OneGram as a gold-backed cryptocurrency can revive the function of dinar as currency. OneGram transforms the gold value in dinar coin which physically has no flexibility in today transaction to the gold value in digital platform which has flexibility in digital transaction with broad accesability.
The research objective is to find a new management control structure, in addition to the existing models: mechanistic and organic. The approach used is hermeneutic to reinterpret the text of management control structure in the Padang restaurant from the relevant literature. After finding the meaning of the text, then field observations were carried out. All relevant literature is positioned as a neutral text which is then reinterpreted to get the essence of the concept of management control structure. The research finding is the design of the Padang restaurant management control structure is the development of the organic model. Each restaurant branch is an autonomous organizational sub-unit, which includes three main characteristics, first, a horizontal and non-hierarchical organizational structure design, and a strategic business unit character. Managers in each branch are given full authority in making operational decisions of the company, a picture of radical decentralization can be seen. Second, the communication network follows the design rhythm of a flat organizational structure, namely fluid communication, dominated by informal communication. The third is budgeting, which is flexible, that is, there is no conventional budgeting that contains details, but only outlines.
Open access
Organizational Leadership and Management Strategies
Globalization has quickly transformed the economy and society, marked by the rapid integration of data and information, supply chains, and increasingly huge use of technology. The research aims to analyze the level of intention to use blockchain in Indonesia, especially the My-T Wallet developed by Tokoin using the Extended Technology Acceptance Model (TAM) approach. The research modifies the TAM by adding other variables that play an essential role in making decisions about using blockchain. The target population is that the respondents at least know about blockchain developments, in this case, My-T Wallet from Tokoin. The research obtains as many as 103 respondents who fill out the questionnaire through the purposive sampling technique. The data are collected through online surveys and analyzed using the Structural Equation Model (SEM) approach with the SmartPLS software. The findings highlight that the perception of the usefulness of the My-T Wallet application is most strongly influenced by public influence. Meanwhile, perceived ease of use is most influenced by the user interface in My-T Wallet. Then, the intention to use My-T Wallet application is strongly influenced by users’ positive behavior. On the other hand, the level of trust of application users must continuously be increased by paying more attention to government regulations and security aspects.
Cut Niswatul Chaira, Hafas Furqani, Dara Amanatillah
Alat pembayaran atau uang terus mengalami inovasi dan berevolusi mulai dari bentuk tunai menjadi bentuk non tunai atau disebut juga uang elektronik. Kemunculan bitcoin sebagai salah satu dari virtual currency menimbulkan pro dan kontra di berbagai kalangan. Ada yang membolehkan ada pula yang mengharamkannya. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan konsep mata uang dalam perspektif ekonomi Islam dengan menganalisis bitcoin sebagai salah satu dari virtual currency. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif. Sumber data diperoleh dari hasil wawancara dengan beberapa akademisi dari bidang ekonomi dan pihak regulator yaitu Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Data dianalisis dengan mendeskripsikan konsep bitcoin sebagai mata uang virtual dalam perspektif ekonomi Islam. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa dalam ekonomi Islam mata uang harus memiliki underlying asset dan dijamin oleh pemerintah. Sedangkan bitcoin tidak memiliki underlying asset, tidak jelas siapa penerbitnya dan tidak ada yang bertanggung jawab. Banyak unsur ketidakjelasan yang dimiliki oleh bitcoin. Bahkan di Indonesia belum ada regulasi secara resmi dan masih dalam tahap pengkajian oleh para ulama. Oleh sebab itu, Bank Indonesia menghimbau kepada masyarakat untuk bertransaksi dengan rupiah karena sesuai dengan Undang-Undang No 7tahun 2011 tentang Mata Uang.
Edi Pranyoto, Susanti Susanti, Septiyani Septiyani
The objective of this research was to determine the effect of the herding behavior and the experienced regret on the investment decision. The type of this research was quantitative research. The data collecting technique used in this research was distributing questionnaires. The sampling technique used in this research was the snowball sampling technique. The number of samples used in this research was 100 investor of bitcoin. The data analyzing technique used in this research was the multiple linear regression analysis. The result of this research showed that the herding behavior had no significant effects on the investment decision; moreover, the experienced regret had a positive and significant effect on the investment decision. It meant that the investors rationally received and analyzed information well in bitcoin because they were not affected by the other investors and did not follow the market situation. In addition, the experienced level of investor regret was considered higher on the condition that the investment decision was also higher because they had enough experience in making the investment decision. Keywords — Herding Behavior, Experienced Regret, Investment Decision, Bitcoin